Beyond Primary Amenorrhea Delayed Diagnosis of Mayer Rokitansky Küster Hauser Syndrome in a Young Married Woman A case report

Authors

  • Ika Arfita Universitas Syiah Kuala and Dr Zainoel Abidin Hospital
  • Nurul Fikriani Universitas Syiah Kuala and Dr Zainoel Abidin Hospital
  • Mira Ulfa Universitas Syiah Kuala and Dr Zainoel Abidin Hospital
  • Rusnaidi Universitas Syiah Kuala and Dr Zainoel Abidin Hospital
  • Muhamad Kelvin Maulana Universitas Syiah Kuala

DOI:

https://doi.org/10.31004/ijisk.v3i4.741

Keywords:

amenorea primer; agenesis Müllerian; sindrom Mayer–Rokitansky–Küster–Hauser; agenesis vagina; fungsi seksual; laparoskopi diagnostik

Abstract

Latar Belakang: Sindrom Mayer–Rokitansky–Küster–Hauser merupakan kelainan kongenital duktus Müllerian yang ditandai oleh agenesis atau hipoplasia berat uterus dan bagian atas vagina pada perempuan dengan perkembangan karakteristik seksual sekunder yang normal serta fungsi ovarium yang tetap baik. Diagnosis umumnya ditegakkan pada masa remaja ketika dilakukan evaluasi terhadap amenorea primer. Keterlambatan diagnosis hingga pasien menikah dapat memperberat permasalahan yang berkaitan dengan fungsi seksual, identitas diri, dan fertilitas. Presentasi Kasus: Seorang perempuan Indonesia berusia 22 tahun dirujuk untuk evaluasi amenorea primer. Pasien melaporkan perkembangan payudara dan rambut pubis yang normal, tidak mengalami nyeri pelvis siklik, serta mengeluhkan kesulitan dalam fungsi seksual setelah menikah. Penilaian menggunakan Female Sexual Function Index menunjukkan skor 20,8. Pemeriksaan fisik memperlihatkan perkembangan payudara Tanner stadium V, pertumbuhan rambut pubis Tanner stadium IV, genitalia eksterna yang tampak normal, serta kantong vagina (vaginal pouch) dengan kedalaman sekitar 1 cm. Pemeriksaan ultrasonografi transabdominal dan transvaginal tidak dapat mengidentifikasi uterus maupun ovarium secara memadai dan mengarah pada dugaan agenesis Müllerian. Laparoskopi diagnostik menunjukkan tidak adanya struktur uterus yang dapat diidentifikasi secara makroskopis, sedangkan kedua ovarium dan tuba falopi tampak normal. Temuan klinis dan intraoperatif tersebut sangat mendukung diagnosis sindrom Mayer–Rokitansky–Küster–Hauser. Pasien selanjutnya memperoleh konseling mengenai diagnosis, fungsi seksual, dukungan psikologis, serta berbagai pilihan reproduksi yang tersedia. Kesimpulan: Amenorea primer yang disertai perkembangan pubertas normal perlu mendorong dilakukannya evaluasi dini terhadap kemungkinan agenesis Müllerian. Kasus ini menegaskan dampak keterlambatan diagnosis serta pentingnya mengintegrasikan evaluasi anatomis dengan pelayanan psikoseksual dan konseling reproduksi. Evaluasi diagnostik yang komprehensif, termasuk pemeriksaan endokrin, analisis kariotipe, dan skrining terhadap kelainan kongenital penyerta, tetap diperlukan apabila pemeriksaan tersebut belum dilakukan sebelum diagnosis dikonfirmasi melalui tindakan operatif.

References

Herlin MK, Petersen MB, Brännström M. Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser syndrome: a comprehensive update. Orphanet J Rare Dis. 2020;15:214. doi:10.1186/s13023-020-01491-9.

American College of Obstetricians and Gynecologists. Müllerian agenesis: diagnosis, management, and treatment. ACOG Committee Opinion No. 728. Obstet Gynecol. 2018;131:e35-e42.

Cospain A, Dion L, Bidet M, et al. Optimizing care for MRKH patients: from malformation screening to uterus transplantation eligibility. Acta Obstet Gynecol Scand. 2025;104:514-521. doi:10.1111/aogs.14985.

Cooper N, Al-Memar M, Linton-Reid K, et al. Magnetic resonance imaging and clinical features of Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser syndrome: a 10-year review from a dedicated specialist centre. BJOG. 2025;132:64-71. doi:10.1111/1471-0528.17928.

Tsarna E, Eleftheriades A, Eleftheriades M, Kalampokas E, Liakopoulou MK, Christopoulos P. The impact of Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser syndrome on psychology, quality of life, and sexual life of patients: a systematic review. Children. 2022;9:484. doi:10.3390/children9040484.

Pietzsch M, Schönfisch B, Höller A, et al. A cohort of 469 Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser syndrome patients: associated malformations, syndromes, and heterogeneity of the phenotype. J Clin Med. 2024;13:607. doi:10.3390/jcm13020607.

Arfita I, Pangastuti N, Prawitasari S, Sumarni. Quality of life in women with congenital disorders of reproductive organs after surgery. Jurnal Kesehatan Reproduksi. 2026;13:1-10. doi:10.22146/jkr.88158.

Lou S, Jensen AH, Vogel I, Trolle B, Herlin MK. Understanding the diagnostic odyssey of women with Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser syndrome in Denmark: a qualitative interview study. J Pediatr Adolesc Gynecol. 2024; 37:412-418. doi: https://doi.org/10.1016/j.jpag.2024.03.003

Herlin MK. Genetics of Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser syndrome: advancements and implications. Front Endocrinol. 2024;15:1368990. doi:10.3389/fendo.2024.1368990.

Chen N, Zhao S, Jolly A, et al. Perturbations of genes essential for Müllerian duct and Wolffian duct development in Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser syndrome. Am J Hum Genet. 2021;108:337-345. doi:10.1016/j.ajhg.2020.12.014.

Gagnier JJ, Kienle G, Altman DG, Moher D, Sox H, Riley D; CARE Group. The CARE guidelines: consensus-based clinical case reporting guideline development. J Clin Epidemiol. 2014;67:46-51. doi:10.1016/j.jclinepi.2013.08.003.

Downloads

Published

2026-09-26

How to Cite

Arfita, I., Fikriani, N., Ulfa, M., Rusnaidi, & Maulana, M. K. (2026). Beyond Primary Amenorrhea Delayed Diagnosis of Mayer Rokitansky Küster Hauser Syndrome in a Young Married Woman A case report. Indonesian Journal of Innovation Science and Knowledge, 3(4), 1776–1785. https://doi.org/10.31004/ijisk.v3i4.741

Issue

Section

Articles